ShareThis

05 October 2011

BUYUNG AIR RIBKA



Gadis cantik itu memberi minum seorang asing dari buyung airnya. Tidak berhenti di situ, ia juga memberi minum unta orang itu. Tampaknya tidak terlalu istimewa, ya? Tetapi, marilah kita berhitung. Untuk memuaskan seekor unta yang haus diperlukan air hampir empat buyung. Nah, unta orang itu bukan hanya seekor tetapi sepuluh! Jadi, berapa kali gadis itu harus bolak-balik menimba air? Ah, Anda tentu mulai melihat sesuatu yang istimewa di sini.

Anda tentu tahu, gadis cantik itu bernama Ribka. Tampaknya ia menerapkan hikmat yang dituliskan Pengkhotbah sekian abad kemudian. Apakah ia melakukannya karena membayangkan hendak dipersunting seorang pangeran tampan idaman? Apakah ia melakukannya hanya untuk pamer, hendak memikat hati orang asing itu, siapa tahu ia dapat memperoleh keuntungan dari kebaikannya? Jelas tidak. Ia sama sekali belum mengenal hamba Abraham itu. Justru kemungkinan besar Ribka sudah terbiasa melakukannya, memberi minum orang-orang asing lain. Ia melakukannya karena memang ia pekerja keras dan murah hati. Dan, pada petang yang tak terduga itu, sikap tersebut membuatnya terhisab dalam kisah penebusan agung yang tengah ditenun Tuhan.

Apa pun tugas yang ada di tangan kita, marilah kita menerapkan hikmat Salomo serta meneladani sikap Ribka. Mungkin hasilnya tidak sedramatis yang dialami oleh Ribka. Akan tetapi, sepanjang kita melakukannya dalam penyertaan Tuhan dan bagi kemuliaan-Nya, kita dapat mengambil bagian dalam kreativitas Sang Pencipta dan turut memelihara serta memperindah ciptaan-Nya.

God Bless ^^

WES MOORE

Ayat : Ulangan 30:15-20 


Pada Desember 2000, surat kabar Baltimore Sun memuat berita tentang Wes Moore, siswa teladan penerima beasiswa Rhodes. Uniknya, dalam koran yang sama, termuat pula berita lain tentang anak-anak muda yang menjadi buronan karena membunuh polisi. Dan, salah satu pemuda pembunuh itu juga bernama Wes Moore sama namanya, tetapi beda orangnya. Kini Wes Moore yang pertama terus berprestasi di masyarakat dan menjadi pemimpin bisnis yang berhasil. Tragisnya, Wes Moore yang kedua kini menjalani hukuman seumur hidup karena kejahatannya. Nama dua orang ini persis sama; mereka berasal dari kota yang sama, lingkungan yang sama kerasnya, dan sama-sama kehilangan ayah sejak kecil.

Dua kehidupan yang sangat mirip ketika muda, tetapi bisa sangat berbeda di masa depan. Ini karena keluarga Wes Moore yang pertama berusaha memilihkan "jalan kehidupan" baginya. Kakek-neneknya merelakan rumah mereka dijual agar Moore dapat disekolahkan di sekolah militer yang mengasah karakter dan kepribadiannya.

Tragedi dalam kehidupan bisa terjadi ketika orang mengabaikan hikmat dari Tuhan tentang bagaimana menjalani hidup. Ketika orang "berpaling dan tidak mau mendengar" Tuhan, bahkan "mau disesatkan" untuk mengikut jalan yang di luar kehendak Tuhan (ayat 17). Sebab di hidup ini ada dua pilihan besar yang harus diputuskan: kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan (ayat 15). Orang yang memilih untuk mengasihi Tuhan dan hidup menurut jalan-Nya, sudah jelas masa depannya: "supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (ayat 19). Mari memilih jalan kehidupan!

God Bless ^^

BENTENG IMAN

Ayat : Kejadian 39:8-10 


Sebuah kartun melukiskan dengan menarik adegan Yusuf sedang digoda oleh istri Potifar. Mereka hanya berdialog berdua di sebuah kamar. Di kamar itu tegak berdiri patung dewa sesembahan keluarga Potifar. Sambil melempar busananya ke arah patung itu sehingga menutupi "kepala" si dewa, istri Potifar berkata kepada Yusuf, "Marilah tidur dengan aku. Tak ada seorang pun di sini yang melihat kita, bahkan dewa pun tidak." Namun Yusuf menjawab, "Janganlah Nyonya berbuat begitu! Walau dewamu tidak melihat, tetapi Allahku hidup dan tetap melihat."

Pencobaan terberat bisa terjadi ketika seseorang sedang berada dalam situasi sepi, tersembunyi, tak ada orang yang melihat. Nafsu jahat akan merayu minta dipenuhi. Niat berbuat baik pun diserbu suara yang berkata, "Percuma, tak usah jadi pahlawan. Tak ada yang melihat dan mengganjarmu". Di saat seperti itu, yang tersisa hanya benteng iman.

Syukurlah, Yusuf memiliki benteng itu. Yakni kesadaran dan penghayatan bahwa Tuhan hidup, selalu hadir dan melihat segala sesuatu. Meski tak ada orang di situ selain Nyonya Potifar sendiri Yusuf tetap berkata, "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ayat 9b).

"Mata Tuhan melihat, apa yang kita perbuat, buat yang baik, buat yang jahat", begitu sebagian lirik nyanyian anak-anak di Sekolah Minggu. Sederhana, tetapi sampai kapan pun kebenarannya tidak berubah. Berlaku baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Jika kita tergoda untuk berbuat jahat atau terhalang untuk berbuat baik karena ada pikiran bahwa tak ada yang melihat mari segera kuatkan benteng iman kita.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC