ShareThis

21 November 2011

DERITA MEMBUKA MATA

Ayat : Kisah Para Rasul 7:54-8:4

Dr. George Harley, seorang lulusan dari Universitas London, memberi hidupnya bagi pekerjaan Tuhan di Liberia, Afrika, dengan pengorbanan besar. Dalam lima tahun pertama, tidak ada seorang pun yang mau berobat dan ditolong dokter. Namun suatu hari, anak Dr. Harley meninggal dunia. Sang dokter yang begitu sedih membuat sendiri peti mati dan mengubur anak yang dicintainya. Melihat penderitaan sang dokter, masyarakat desa itu terkejut. Mereka heran bahwa orang kulit putih juga bisa menangis. Air mata sang dokter telah menyentuh hati mereka dan mengubah keadaan. Sebab bagi mereka, itulah tanda bahwa sang dokter memiliki kasih yang mendalam. Mulai dari saat itu, salah satu desa di Liberia disentuh dan dimenangkan bagi Kristus.

Mata rohani orang-orang juga terbuka ketika menyaksikan keberanian Stefanus menghadapi penghakiman massal, yang membuatnya terbunuh sebagai martir. Mereka heran mengapa Stefanus berani membela imannya sedemikian rupa. Itu membuktikan bahwa kepercayaan Stefanus jauh lebih unggul dibandingkan kepercayaan orang-orang lain. Bahkan, penderitaan Stefanus juga membuka mata batin, serta memacu semangat dan kehendak para pengikut Kristus untuk makin gencar dan berani menyebarkan Kabar Baik. Setelah penganiayaan Stefanus, anak-anak Tuhan makin tersebar bahkan sampai keluar dari Yerusalem.

Penderitaan Stefanus dan Dr Harvey, justru menjadi alat di tangan Tuhan untuk mendobrak kerasnya hati manusia. Bukan hanya mata batin para pengikut Kristus, melainkan juga mereka yang masih membutuhkan kasih Kristus.

God Bless ^^

BUKAN REMISI

Ayat : Mazmur 51:1-8 

Seorang narapidana memperoleh remisi, antara lain karena ia dianggap berkelakuan baik selama berada di dalam penjara. Kebaikan membuahkan pengurangan hukuman. Anugerah Allah bekerja sebaliknya. Dia mencurahkan anugerah justru karena kita durhaka dan tidak mampu memperbaiki diri dengan kekuatan sendiri.

Daud sangat menyadari hal ini. Ketika berzina dengan Batsyeba, ia sedang berada di puncak kejayaan sebagai raja Israel. Bangsanya mengenalnya sejak ia menjadi pahlawan kecil yang secara mengejutkan menumbangkan raksasa Goliat. Selanjutnya ia memimpin pasukan Israel ke dalam berbagai kemenangan sehingga ia dielu-elukan oleh rakyat. Ketika akhirnya menjadi raja, ia juga mencatat prestasi mengesankan: mengembalikan tabut Allah yang dirampas bangsa Filistin ke Yerusalem, meraih sekian banyak kemenangan militer, dan menunjukkan kebaikan yang tulus kepada Mefiboset.

Namun, saat bertobat dari dosanya, ia tidak mengutip satu pun pencapaian itu sebagai senjata untuk "merayu" Allah agar mengurangi hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Menarik dicatat pula, ia hanya berseru, "ya Allah" bukan "ya Allahku". Ia menyadari betapa parah dosa merusak hubungannya dengan Allah. Maka, ia hanya meminta belas kasihan, kasih setia, dan rahmat Allah Yang Mahabaik. Kebaikannya selama ini tidak berguna untuk meringankan dosa; hanya anugerah Allah yang sanggup mengampuni dan menebusnya.

Anda bergumul dengan suatu pelanggaran, dan merasa harus melakukan perbuatan baik tertentu untuk menebusnya? Berhentilah bergumul seperti itu. Ikutilah teladan pertobatan Daud

God Bless ^^

MENGGANTUNGKAN HARAPAN

Ayat : Lukas 7:11-17 

Ketika suaminya meninggal, wanita ini bertekad menjanda untuk membesarkan anak tunggalnya. Ia berjuang melawan kerasnya hidup, termasuk cercaan serta cibiran tetangga yang mewaspadai para janda. Ia berpikir, "Tak apalah aku susah sekarang. Sebentar lagi anakku dewasa, dan dialah harapan masa tuaku." Namun mendadak, anak tunggalnya itu meninggal. Harapan hidupnya terampas seketika. Sampai ia harus bertanya, "Untuk apa lagi aku hidup?" Di sepanjang jalan desa Nain menuju pemakaman, air matanya telah mengering. Meski orang-orang turut meratapi kepergian putranya, tak ada yang memahami kesedihannya karena kehilangan tempat menggantungkan hidup.

Ketika ia berpapasan dengan Yesus, kesedihan mencekik kerongkongannya. Ia tak lagi mampu mengucap, memohon pertolongan. Apakah hati sang Juru Selamat hanya tergerak jika diminta, dan jika ada iman kepada-Nya? Ketika hidupnya "lumpuh", sang Juru Selamat memahaminya. Dia peduli pada hati yang menjerit tanpa kata. Dengan penuh kasih Dia berkata: "Jangan menangis." Ucapan ini bukan sekadar penghiburan di kala duka. Sebab, Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas maut dan kehidupan. Maka, dengan penuh kuasa Yesus berseru: "Hai anak muda ... bangkitlah" (ayat 14). Yesus bukan hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si janda.

Kepada siapa Anda menggantungkan harapan masa depan? Kepada pasangan hidup, anak-anak, harta, asuransi, atau yang lain? Ingatlah bahwa semua itu bisa mati dan habis. Maka, berharaplah kepada sumber kehidupan, yaitu Yesus, yang selalu mampu dan mau memedulikan kita.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC