ShareThis

03 January 2012

TAK PERLU DIPIKIR?

Ayat : Efesus 4:11-16 

Pernah lihat kaki seribu? Bayang-kan kalau hewan berkaki banyak ini berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir? Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, makin baik. Mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan untuk menjadi seperti anak-anak (childlike)? Pemahaman pengajaran adalah bagian para "hamba Tuhan" dan "teolog". Jemaat "awam" cukup belajar mengenai kerohanian yang praktis.

Kontras dengan itu, Alkitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh (ayat 15) juga meliputi menjadi dewasa dalam "iman dan pengetahuan yang benar" akan Tuhan. Artinya, kita justru harus dengan sengaja memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (ayat 13, lihat juga 2 Petrus 3:18). Inilah sebenarnya arti kata teologi (teos=Tuhan+logos=pengetahuan, pemahaman). Orang dengan pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan mudah "diombang-ambingkan" (ayat 14). Menjadi seperti anak-anak dalam iman bukan berarti menjadi childish atau kekanak-kanakan (1 Korintus 14:20).

Seberapa banyak aspek pertumbuhan ini kita perhatikan? Kita tak mungkin mencintai, melayani, dan menyembah Pribadi yang tak kita kenal atau yang kita kenal secara samar. Di tahun yang baru ini, mari cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan yang ada untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan.

God Bless ^^

RINDU YANG SEHARUSNYA

Ayat : Mazmur 84:1-13 

Doug Banister dalam bukunya, Sacred Quest, bertanya: Beranikah saya berharap bahwa saya memiliki hubungan yang demikian dekatnya dengan Tuhan sehingga hati saya diisi dengan visi baru, dan keagamaan kering saya menjadi sebuah pencarian dengan hasrat yang kuat, serta penyembahan kepada Kristus yang hidup? Dapatkah saya benar- benar bertemu Kristus dengan keakraban yang membuat saya tidak lagi menelusuri tempat-tempat kecanduan saya? Dapatkah Yesus benar-benar menyentuh kesepian hati saya? Apakah ini sesuatu yang terlalu besar untuk diharapkan?

Mazmur ini menjawab: Tidak, justru itu yang seharusnya diharapkan tiap orang percaya! Seperti kerinduan pemazmur yang menggelegak, mengisi daging, jiwa, dan hatinya untuk berada dekat dengan Tuhan (ayat 2-5). Kemungkinan besar mazmur ini dinyanyikan dalam perjalanan ziarah orang Israel ke Bait Allah di Yerusalem. Hasrat akan keintiman dengan Tuhan mendorong mereka memulai perjalanan panjang tersebut (ayat 6-7). Makin lama, makin dekat dan kuat (ayat 8). Perjumpaan dengan Tuhan jauh lebih berharga dibanding hal-hal lainnya (ayat 11).

Bukankah hidup kita di dunia juga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk mencari dan menemukan sukacita terbesar di dalam Tuhan? Adakah perjumpaan dengan Tuhan menjadi harapan yang menggelorakan hati kita? Mari bangkit dari kedangkalan rohani menuju persekutuan yang sejati dan penuh dengan Tuhan. Bawalah tiap pembaruan yang Anda rindukan terjadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan di tahun yang baru ini kepada-Nya.

God Bless ^^

JIKA TUHAN MENGHENDAKI

Ayat : Yakobus 4:13-17

Hidup di dunia itu singkat. Kata pepatah Jawa, "urip mung mampir ngombe" [hidup itu hanya mampir minum]. Gambaran hidup manusia dalam Alkitab juga sama singkatnya. Seperti suatu giliran jaga malam, seperti mimpi, seperti bunga dan rumput, seperti angin dan bayangan (Mazmur 90:4-5; 103:15; 144:4). Bacaan hari ini melengkapinya. Seperti uap! Sebentar ada lalu lenyap (ayat 14).

Bagaimana harus menata hidup dalam waktu yang seperti "uap" ini? Rasul Yakobus menasihatkan agar umat percaya tak mengandalkan diri sendiri, tetapi memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan (ayat 15-16). Kita melakukan ini dan itu "jika Tuhan menghendakinya ...." Ungkapan ini jelas bukan hanya bagian dari sopan santun agar seseorang terlihat rendah hati dan rohani atau alasan menghibur diri menghadapi berbagai ketidakpastian. Namun, merupakan ekspresi ketundukan pada kedaulatan Tuhan mengakui bahwa Dialah pemegang kendali atas hidup ini. Kehendak-Nya, isi hati-Nya penting bagi kita.

Dr. Michael Griffiths, dalam buku Ambillah Aku Melayani Engkau, berkata: "Kita punya satu hidup untuk ditempuh. Mungkin sudah kita lalui seperempat, sepertiga, setengah, bahkan mungkin lebih

dari itu. Apa yang sudah kita lalui itu sudah lampau, dan takkan kembali lagi. Tetapi bagaimana dengan yang masih sisa? Apakah yang akan kita lakukan dengan itu?" Hidup itu singkat; tak terduga. Mari membuat perencanaan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan di awal tahun ini, dengan sungguh-sungguh mengakui kedaulatan Tuhan dan menundukkan diri pada kehendak-Nya.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC