ShareThis

15 December 2011

INVESTASI WAKTU

Ayat : Amsal 4:1-6

Seorang tokoh politik serta diplomat Amerika abad ke-19, Charles Francis Adams, punya buku harian. Suatu saat, di buku itu ia menulis: "Hari ini saya memancing dengan anak laki-laki saya satu hari terbuang percuma." Ternyata, putranya, Brook Adams, juga memiliki buku harian. Dan, pada hari yang sama tersebut, Brook Adams menulis: "Pergi memancing dengan Ayah ini sungguh hari paling menyenangkan di hidupku!" Perbedaan pandangan terhadap satu pengalaman yang sama. Yang satu merasa membuang waktu, yang lain merasa sang ayah memberi investasi waktu yang berharga baginya.

Beda cara pandang seperti ini mungkin kerap terjadi. Kita merasa membuang waktu saat "hanya" bermain berbincang dengan anak-anak. Padahal bagi mereka, itulah tabungan emosi dan kepercayaan yang mereka dapat dari kebersamaan dengan orangtua. Dan, inilah keadilan Tuhan; kasih itu dapat dinyatakan dengan sesuatu yang dapat dilakukan tiap orangtua: investasi waktu yang tak menuntut kita untuk selalu keluar uang. Anak-anak hanya perlu kita ada bersama mereka, punya waktu mendengar mereka, punya kesempatan menyentuh mereka dengan kasih nan menenteramkan.

Salomo adalah salah satu tokoh Alkitab yang tercatat karena kebijaksanaan, kemasyhuran, kesuksesannya. Namun, siapakah pribadi di balik keberhasilannya itu? Betulkah ia menyebut-nyebut ayahnya yang berperan mendidik dan menasihatinya? Bacaan hari ini menunjukkan hal itu. Daud, ayah Salomo, memberi waktu yang ia punya untuk mengarahkan putranya agar hidup di jalan Tuhan. Dan, kita telah melihat hasilnya. Maka, sesibuk-sibuknya kita sebagai orangtua, mari prioritaskan selalu waktu untuk anak.

God Bless ^^

BALAS MELUKAI

Ayat : 1 Petrus 2:16-25

Adi yang berusia tujuh tahun menangis di ruang tamu. Ketika ditengok ibunya, ternyata ia menangis karena rambutnya ditarik-tarik oleh Bram, adiknya. "Sudahlah, Adi, jangan marah, " kata si ibu. "Adikmu baru tiga tahun. Ia belum tahu bahwa rambut itu sakit kalau ditarik." Setelah tangisnya reda, si ibu kembali ke dapur. Namun, sesaat kemudian terdengar Bram yang menangis! "Ada apa lagi ini?" tanya si ibu kesal. Seketika Adi menjawab dari ruang tamu: "Bu, sekarang Bram sudah tahu rasanya!"

Orang yang terluka biasanya terdorong untuk membalas. Terkadang tanpa disadari. Rasa dendam yang menyelinap di hati membuat kita tak lagi bebas mengasihi semua orang. Bagaimana mengatasinya? Petrus menasihati agar kita "hidup sebagai orang merdeka". Seseorang disebut merdeka jika jiwanya bebas dari dendam. Bebas dari niat membalas kejahatan dengan balik berbuat jahat. Dengan jiwa yang merdeka, kita bisa menghormati semua orang, termasuk majikan yang bengis terhadap kita (ayat 18-19). Petrus menjadikan Yesus sebagai contoh. Ketika dicaci maki hati-Nya terluka, tetapi Dia tidak balas melukai orang. Apa rahasianya? Dia menyerahkan urusan pembalasan itu kepada Bapa!

Adakah dendam dalam hati Anda? Niat balas dendam membuat hati tidak bisa lagi bening. Pikiran menjadi ruwet. Bahkan, bisa membuat kita nekat berbuat jahat. Kadang kala orang yang tidak melukai kita pun bisa kena getahnya. Pembalasan itu melumpuhkan dan membahayakan! Lebih baik serahkan sakit hati kita kepada Allah. Mintalah kepada Dia untuk mengambil alih perkara itu dan membebaskan jiwa Anda.

God Bless ^^

ORANG FASIK, ORANG BENAR

Ayat : Mazmur 1:1-6

Kitab Mazmur mengisahkan hubungan antara orang beriman dan Tuhan. Maka, tak salah jika pengumpul kitab Mazmur meletakkan Mazmur 1 ini menjadi bagian pertama dari kumpulan mazmur. Dengan tegas, pemazmur menasihati agar orang beriman jangan hidup sembrono. Sekalipun "cuma" duduk di lingkungan pencemooh dan berdiri di lingkungan orang berdosa, itu bisa membuatnya terjerumus. Sebab, dosa akan melahirkan dosa. Maka, kita dinasihati supaya mengenali siapa orang fasik, siapa orang benar, dan menjaga hati kita saat bergaul dengan banyak orang.

Orang fasik ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi mengabaikannya. Malah, hidupnya begitu banyak diisi dengan keinginan guna menyenangkan orang lain. Ia tak memiliki prinsip, hidupnya menjadi seperti sekam yang diterbangkan kian kemari oleh badai hidup. Walau bisa tampak hebat, tetapi dengan mudah ia bisa lenyap hingga tak berbekas.

Orang benar ialah orang yang bergaul dekat dengan Tuhan lewat firman-Nya. Hidupnya terus "bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi sungai". Maka, sekalipun badai mengguncang dan panas terik melanda, ia tetap kokoh, bahkan terus berbuah. Inilah tandanya orang yang bergaul dengan Tuhan: hidupnya banyak memberkati orang lain dengan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, secara pribadi ia diberkati dengan kebahagiaan dan kepuasan, sebab hidupnya melekat kepada Sang Sumber hidup.

Jaga hati kita dalam pergaulan dengan penuh kewaspadaan. Jadilah orang benar yang mengalami kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Yakni, dengan bergaul karib dengan Tuhan, melalui firman-Nya.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC