ShareThis

06 May 2012

HARTA SURGAWI


Sembari menunggu mobil saya mendapat perawatan rutin, saya berbincang dengan pemilik bengkel. Ia berkisah bahwa dulu saat masih menjadi pemasok tembakau bagi pabrik rokok, penghasilannya sangat melimpah. Setelah bertobat, ia bergumul dengan pekerjaannya sebab penghasilan itu ia peroleh dari rusaknya kesehatan banyak orang. Ia lalu menjual gudang beserta isinya dan membuka bengkel. Ia melepaskan sumber pendapatan yang besar bagi hidupnya. Penghasilannya kini terbatas, tetapi ia mendapatkan kepuasan.

Sikap ini bertolak belakang dengan seseorang yang menemui Yesus untuk mengetahui cara memperoleh hidup kekal. Ia berharap telah memenuhi syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui hidupnya yang saleh menurut hukum Taurat (ayat 20). Dari jawaban Tuhan Yesus kita tahu bahwa hidup kekal hanya diperoleh jika seseorang mengikut Yesus sepenuhnya, tanpa ada yang menahan-nahan pun menghalang-halangi terlebih harta kekayaan di dunia ini. Persoalannya, harta orang tersebut sangatlah banyak. Ia tak rela melepaskannya, maka mukanya menjadi muram dan pergi dengan sedih (ayat 22). Tuhan Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia, akan menerima kembali seratus kali lipat ... dan ia akan menerima hidup yang kekal (ayat 30).

Apakah kita tengah menggumuli panggilan untuk mengikut Yesus sepenuh hati? Masih adakah penghalang yang membuat kita ragu dan bimbang melangkah? Kiranya kasih dan cinta kita kepada Yesus menjadikan kita rela; bahkan mantap melangkah mengikut Dia.

God Bless ^^

DARI TIRANUS KE SELURUH ASIA


Di Indonesia, hanya sekitar dua persen penduduk yang bisa mengenyam perguruan tinggi. Meskipun jumlahnya sedikit, potensi pengaruh mereka sangat besar di berbagai bidang masyarakat.

Tahukah Anda bahwa Rasul Paulus pernah mendidik para "mahasiswa"? Tepatnya di kampus Tiranus, di kota Efesus. Dicatat bahwa pelayanan Paulus ini berdampak bagi semua penduduk Asia (ayat 10). Apakah ini catatan tentang apa yang sudah terjadi atau merupakan visi Paulus atas kampus Tiranus? Paulus tidak sekadar "pindah pelayanan" karena ditolak orang (ayat 9). Ia melihat potensi murid-muridnya untuk membawa pengaruh firman Tuhan kepada seluruh penduduk Asia. Sebab itu, ia menginvestasikan hidupnya selama dua tahun di sana (ayat 10).

Di balik sikap kritis bahkan sinis orang-orang terpelajar, ada kebutuhan batin yang membuat mereka mencari-cari kebenaran. Siapakah yang akan mengisi kehausan mereka akan makna?

Apakah agama dan kepercayaan lain, sekte-sekte berbahaya, sekularisme dan materialisme, atau Injil Kristus yang mengubah hidup? Memperingati Hari Pendidikan Nasional, mari mendoakan kaum intelektual di negeri kita. Mohon Tuhan menerangi pikiran mereka dengan kebenaran, agar orang-orang ini dapat memakai pengetahuan mereka untuk membawa pengenalan akan Tuhan ke seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke ujung bumi.

God Bless ^^

HATI PENUH PUJIAN


Pada 1960, Dean Denler, suami Ruth Meyers (penulis 31 Days of Praise), dirawat karena kanker terminal. Saat itulah ia memutuskan untuk membuat kamar rumah sakitnya suatu tempat kediaman istimewa bagi Tuhan. "Aku akan memuji Tuhan sepanjang kekekalan, " katanya kepada Ruth, "tapi hanya selama waktuku yang singkat di bumi aku dapat membawa kesukaan bagi-Nya dengan memuji Dia di tengah kesakitan." Ketika meninggal, teman dekatnya berkata, "Kamar Dean menjadi suatu tempat suci, ranjangnya sebuah mimbar; dan semua yang datang untuk menghiburnya diberkati." Lagu pujian memang tidak menyembuhkan fisik Dean. Namun, orang dapat mencermati bagaimana pujian yang lahir dari hati penuh syukur mengubah cara pandangnya terhadap penyakit; dan membawa orang lain memuliakan Allah.

Paulus juga berpesan agar jemaat di Tesalonika bersyukur dalam segala hal (ayat 18). Mengapa? Sebab itulah yang dikehendaki Tuhan. Ya, Anda tidak salah baca. Mengucap syukur dalam segala hal adalah kehendak Kristus. Sukacita dan syukur jemaat Tesalonika menjadi teladan bagi banyak orang, bukan karena segala sesuatu lancar bagi mereka (lihat 1 Tesalonika 1:6-9). Penindasan tidak menghalangi hati yang dipenuhi syukur melahirkan pujian bagi Tuhan.

Dalam hal apa atau saat-saat seperti apakah Anda memuji Tuhan bersukacita dan bersyukur kepada-Nya? Apakah pujian Anda kepada Tuhan kerap dipengaruhi keadaan sekitar? Pujilah Tuhan, sebab itulah kehendak-Nya. Itu menyukakan hati-Nya, dan membawa orang lain memandang kemuliaan-Nya.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC