ShareThis

22 May 2012

DISKUSI TANPA AKSI

Ayat : Roma 10:4-15

Saya kerap mendengar orang kristiani yang berdiskusi tentang nasib orang-orang yang ada di tempat terpencil atau yang belum pernah mendengar karya Kristus. Namun, dari nada dan nuansanya, diskusi itu tidak muncul dari keprihatinan akan nasib mereka yang belum mendengar Injil. Diskusi lebih diwarnai keinginan untuk memuaskan otak dengan memperdebatkan hal-hal yang rumit di seputar topik ini.

Paulus menuliskan hal yang lebih penting untuk kita ketahui dan lakukan daripada sekadar memperdebatkannya. Ia menekankan bahwa siapa saja yang mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat akan diselamatkan (ayat 9-10). Namun, orang hanya bisa sampai pada pengakuan semacam ini kalau ia pernah mendengar Berita Injil (ayat 14). Ini menunjukkan betapa pentingnya seseorang yang menyampaikan kabar baik itu kepada mereka. Menjadi tugas setiap orang percaya untuk menjadi penyampai Kabar baik tersebut. Para pemberita Injil inilah yang lebih dibutuhkan daripada seorang pemenang debat yang tidak pernah berangkat menginjili. Gereja yang sehat haruslah lebih banyak mengutus pemberita Injil daripada menyelenggarakan seminar penginjilan.

Sungguhkah kita mencemaskan nasib mereka yang belum pernah mendengar Injil? Adakah kerinduan dalam diri kita, melihat banyak orang menjadi percaya dan mengaku Yesus itu Juru Selamat, serta hidup memuliakan-Nya? Diskusi tanpa aksi dan kecemasan semata bukanlah jalan keluar. Energi yang dipakai untuk berdebat panjang tentang nasib orang di kekekalan akan lebih berguna jika dipakai untuk mendoakan, merancang strategi menyampaikan kabar baik, dan menjalankannya sepenuh hati.

God Bless ^^

MENANGKAP KESEMPATAN


Semenjak menerima amanat untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), para murid terus giat bersaksi. Banyak orang yang menjadi percaya karena kesaksian mereka dan hal tersebut membuat marah para pemuka Yahudi. Mereka dengan keras melakukan pencegahan dan penganiayaan kepada para murid. Beberapa diantaranya dibunuh dan dipenjarakan.

Akibat adanya penganiayaan di Yerusalem, orang-orang kristiani kian terserak ke daerah-daerah sekitar. Akan tetapi, dicatat bahwa sambil menyingkir, Filipus dan para murid yang lain justru giat bersaksi. Kerinduannya untuk bersaksi mengalahkan ketakutannya akan penganiayaan. Apa yang bagi banyak orang adalah halangan pelayanan, ia tangkap sebagai peluang. Ia dan para murid lainnya dilatih untuk melihat bahwa dengan tersebarnya mereka ke segala tempat, dapat menjadi permulaan dari penggenapan untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Dalam kedaulatan Allah, penganiayaan dan keterserakan bisa dibaca sebagai "penempatan" untuk menjangkau segala bangsa. Yang mereka butuhkan adalah kepekaan terhadap setiap kesempatan yang Allah bukakan.

Masihkan kita memiliki kerinduan yang dalam agar segala bangsa mendengar Kabar Baik yang menyelamatkan? Apa yang telah atau sedang kita lakukan seiring dengan kerinduan tersebut? Pernahkah kita berpikir bahwa di mana pun kita di tempatkan, dapat diartikan bahwa kita sedang diutus ke sana menjadi berkat? Dengan tetap bersaksi di tempat kita masing-masing, paling tidak sebagian besar suku bangsa sedang diperkenalkan dengan Kabar Baik yang menyelamatkan tersebut.

God Bless ^^

MARTURIA


Kata "saksi" dalam Alkitab bahasa Indonesia kita merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Yunani martus atau martur. Kata ini berarti seseorang yang menyatakan apa yang telah ia lihat, dengar, atau ketahui. Dari kata ini juga berasal kata martyr dalam bahasa Inggris, yang berarti seseorang yang membawa kesaksian melalui kematiannya. Kesaksian dan kemartiran memiliki akar dan sejarah yang sangat erat.

Pada masa kini, istilah "bersaksi" disamakan dengan kegiatan mengkomunikasikan Injil secara pribadi. Pada masa Alkitab, yang salah satu kisahnya kita baca dalam bagian ini, "bersaksi" lebih merupakan pernyataan di muka umum di tengah tantangan dan penganiayaan. Orang-orang percaya ditangkap, dihina, diadili, diancam, disesah, dianiaya. Bukannya susah, mereka justru bergembira boleh menderita karena Kristus (ayat 41). Bukannya berhenti, mereka terus mengajar dan memberitakan Injil, setiap hari (ayat 42). Sejarah mencatat bahwa pengakuan dan pengorbanan orang-orang percaya mula-mula ini sangat mempengaruhi orang-orang pada masa itu. Ketegaran mereka dalam penderitaan juga meneguhkan betapa bernilainya kebenaran yang mereka beritakan. Bisa jadi hal inilah yang kemudian menyebabkan banyak imam juga menyerahkan diri dan percaya (6:7).

Gereja dipanggil untuk melanjutkan menjadi saksi hingga ke ujung bumi, sampai segala suku bangsa menerima pemberitaan Injil kerajaan yang mulia ini. Generasi sebelumnya, para rasul dan gereja mula-mula, telah memberi teladan kesetiaan untuk kita ikuti. Kiranya generasi setelah kita juga akan mendapati kita setia dalam perjuangan dan ketaatan yang sama.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC