ShareThis

12 May 2012

KASIH TANPA BATAS


Kita tentu tidak asing dengan cerita rakyat Malin Kundang. Cerita tentang seorang anak yang melupakan kebaikan ibu yang telah membesarkannya. Setelah kaya, ia malu mengakui ibunya yang sudah tua dan miskin. Ibunya berusaha menyadarkan, tetapi ia tetap tidak mau mengakui. Akhirnya kesabaran sang ibu habis. Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Kesabaran sang ibu, sebagai manusia, ada batasnya.

Hosea menggambarkan hati Allah yang penuh belas kasih dengan begitu indah. Meski begitu, kebaikan dan belas kasih-Nya kerap kali dilupakan umat Israel. Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, dan menolong sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian (ayat 1). Ironisnya, bukannya mensyukuri kemurahan dan pertolongan Tuhan, mereka malah menjauh dari Tuhan. Mereka berpaling menyembah ilah lain (ayat 2-4, 7). Sungguh bersyukur bahwa Tuhan bukan manusia Dia tak pernah habis kesabaran seperti ibu Malin Kundang. Dia memberi disiplin pada umat-Nya (ayat 5-6), namun tidak menghendaki umat-Nya "hangus" dan "binasa" (ayat 8-9). Tuhan adalah pribadi penuh belas kasihan yang menghendaki umat-Nya bertobat.

Membaca bagian firman Tuhan hari ini membawa kita kembali menyelami kebesaran kasih Tuhan, sekaligus menyadari betapa kita sangat layak dimurkai. Bukankah kita pun sering berpaling dari-Nya seperti bangsa Israel? Segala perbuatan-Nya dalam hidup kita terlupakan begitu saja. Bersyukur bahwa Tuhan bukan manusia yang terbatas dalam kasih. Mari mohon Tuhan menolong kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan.

God Bless ^^

IKAN BESAR


Orang Ibrani mempunyai keyakinan bahwa "dunia orang mati" itu berada di bawah. Ya, jauh di kedalaman di bawah sana. Gelap; mengerikan; jauh dari hadirat Tuhan. Ketika Yunus dilempar ke dalam lautan yang sedang bergelora, pastilah ia merasa bahwa dirinya sedang dikirim ke "dunia orang mati" itu. Ternyata tidak! Seekor "ikan besar" menelannya atas perintah Tuhan!

Yunus berada di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam. Ia menyadari, ternyata di pusat lautan, ia masih hidup (ayat 3). Tuhan belum selesai berurusan dengannya. Yunus bukan saja dikejar-Nya dengan "badai besar" (lihat Yunus 1:12), melainkan juga ditangkap-Nya dengan "ikan besar". Kini, ia layaknya seorang anak dalam genggaman erat tangan bapanya. Yunus sadar, jika "badai besar" dan "ikan besar" saja taat kepada Tuhan, bukankah sepatutnya ia mematuhi panggilan Tuhan? Ia teringat kepada Tuhan (ayat 7). Dan, dalam kesempatan hidup yang kedua itulah Yunus bertekad memenuhi nazarnya kepada Tuhan dalam rasa syukur, Yunus berdoa kepada Tuhan (ayat 9). Perut ikan itu seolah malah menjadi sebuah ruang doa yang hening bukan kuburan sepi baginya.

Apakah kita merasa tengah berada di "perut ikan besar" yang menelan kita setelah kesalahan besar yang kita lakukan pada masa lampau? Mungkin itu adalah kondisi sakit parah, ekonomi yang sedang jatuh, studi yang gagal, cinta yang kandas, atau bahkan jeruji penjara. Tuhan belum selesai dengan kita. Berpalinglah kepada-Nya dan berdoalah, dengan diiringi keyakinan bahwa kondisi kini apa pun itu justru dapat Dia pakai sebagai "perut ikan" yang akan mengembalikan kita kepada tujuan-Nya yang mulia.

God Bless ^^

NYATA DALAM KEGELAPAN

Ayat : Ayub 42:1-6

Gelap kerap diidentikkan dengan hal-hal negatif. Namun, tidak bagi para astronom di Boscha, Lembang. Gelap mutlak diperlukan dalam pengamatan bintang dan benda-benda angkasa nan indah. Sayangnya, pembangunan pemukiman dan gedung-gedung baru membuat langit Bandung dan sekitarnya menjadi makin terang benderang saat malam. Kondisi ini membuat para peneliti khawatir, pengamatan benda-benda angkasa lewat teropong bintang tak lagi bisa dilakukan karena polusi cahaya.

Dalam perjalanan hidup bersama Tuhan, kita pun kerap menolak "gelap". Kita berharap Dia senantiasa membawa kita berjalan dalam terang. Kenyataannya, ada masa ketika Dia membawa kita berjalan melewati lembah kelam. Lihatlah Ayub. Dalam izin dan kedaulatan Tuhan, Ayub pernah mengalami keadaan yang sangat buruk. Malapetaka menimpanya bertubi-tubi, hingga Ayub berkeluh kesah (Ayub 3). Tuhan pun menyatakan diri-Nya di tengah badai (Ayub 38-41). Tidak semua pertanyaan Ayub dijawab Tuhan. Namun, apa yang dinyatakan Tuhan itu lebih dari cukup bagi Ayub. Ia mengerti. Sama seperti kilau bintang yang tampak paling indah di kegelapan malam, malapetaka yang Ayub alami adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menyatakan Pribadi-Nya dalam hidup Ayub yang selama ini luput dari pengamatannya (ayat 5).

Gelap tak selamanya buruk. Keadaan apa pun yang kita alami saat-saat ini dapat menjadi sarana Tuhan menyatakan kasih, kuasa, berkat, dan Pribadi-Nya. Lebih dari itu, Dia rindu kita makin mengenal dan mengalami-Nya secara pribadi, hingga kita dapat mengaku: "... sekarang kukenal Engkau dengan berhadapan muka" (ayat 5 BIS).

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC