ShareThis

18 January 2013

Lepas dari cengkeraman Iblis


Permusuhan antara kebenaran dan kejahatan sudah terjadi sejak di taman Eden (Kej 3:15) sampai kedatangan Yesus pertama hingga masa kini di 2013 bahkan sampai kedatangan-Nya kedua kali. Iblis sebagai penghulu kuasa jahat berusaha merebut jiwa manusia untuk membinasakannya. Namun, Yesus datang untuk membebaskan manusia dari Iblis, dosa, dan maut. Di mata Allah setiap jiwa manusia sangat berharga, sehingga Dia mengutus Yesus mati disalib demi menyelamatkannya.

Penyelamatan dari Yesus bukan hanya untuk umat Israel, tetapi untuk semua bangsa. Yesus pergi ke Gadara, wilayah nonYahudi untuk menyelamatkan dua orang yang dirasuk setan. Yesus sengaja menemui kedua orang itu untuk membebaskan mereka dari siksa roh-roh jahat karena tidak ada kuasa lain yang dapat menolong mereka. Dengan otoritas-Nya sebagai Raja kerajaan surga, Ia memerintahkan setan untuk keluar dari kedua orang tersebut. Atas izin-Nya, roh-roh jahat itu masuk ke dalam kawanan babi yang kemudian terjun di danau, lalu binasa.

Berpindahnya roh jahat merasuk babi merupakan hal yang sepantasnya karena babi adalah kejijikan dan haram dalam Taurat Perjanjian Lama. Yesus seolah tak mempedulikan kerugian pemilik ternak babi itu demi keselamatan jiwa satu orang. Harga orang yang diselamatkan-Nya sekitar milyaran rupiah bila dihitung pada saat ini. Nyawa manusia tidak bisa dihitung dengan uang karena pelayanan akan satu jiwa menuntut harga kematian. Kematian Yesus disalib dengan darah tercurah bernilai jauh melebihi emas dan perak sedunia karena darah-Nya yang kudus dicurahkan untuk menebus umat pilihannya dari cengkeraman maut.

Demonstrasi kuasa Sang Raja kerajaan surga tidak dapat disangkali. Setiap orang harus merespons dengan benar. Matius tidak memberitahu kita respons kedua orang yang disembuhkan itu. Markus dan Lukas mencatat bahwa keduanya ingin mengikut Yesus. Namun, Yesus menugaskan mereka menjadi saksi Kristus di kota mereka. Respons penduduk kota menolak Yesus. Bagaimana respons Anda?

God Bless

Karya Raja surga


Matius mengatur Injilnya secara berselang-seling antara pengajaran Yesus mengenai kerajaan surga dan tindakan-Nya yang nyata sebagai wujud kehadiran kerajaan surga di bumi ini. Setelah pasal 5-7 menghadirkan pengajaran akan karakteristik kerajaan surga, pasal 8-9 memaparkan kuasa kerajaan surga di dalam tindakan Yesus demi penyelamatan umat manusia, yang bukan terbatas pada umat Yahudi saja. "Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama… di kerajaan sorga" (11).

Kuasa Yesus sebagai Raja dalam kerajaan surga nyata lewat karya-Nya. Pertama, Ia melenyapkan penyakit kusta (3), kelumpuhan (13), dan demam (15). Kusta melambangkan dosa dan kenajisan. Penderita kusta bukan hanya secara fisik menderita, secara sosial pun tersingkirkan dari masyarakat. Karya kerajaan Allah adalah pemulihan baik fisik, sosial, maupun rohani. Si pemilik hamba yang sakit lumpuh adalah orang asing. Karya kerajaan surga berlaku bagi orang nonYahudi, berlaku universal. Demam, sebagai penyakit biasa, maupun berbagai penyakit karena kuasa kegelapan takluk pada Sang Raja kerajaan surga. Suatu demonstrasi kuasa yang mengatasi langit dan bumi.

Kedua, Sang Raja kerajaan surga berdaulat menentukan siapa yang menjadi anggota kerajaan-Nya (18-22). Seorang penafsir mengatakan bahwa seorang ahli Taurat mau menjadi pengikut Yesus adalah suatu mukjizat (19). Menjadi anggota kerajaan surga bukan pilihan atau usaha manusia, tetapi ketetapan dan anugerah Allah. Ketiga, alam yang dahsyat dan menakutkan tunduk pada otoritas Sang Raja dan Penguasa alam semesta (26).

Karya Yesus di awal pelayanan-Nya ini mendemonstrasikan kuasa kerajaan surga, yaitu penegakan kembali kedaulatan Allah dalam dunia ini. Setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah anggota-anggota Kerajaan Allah. Bukan hanya kita akan mengalami kuasa-Nya yang nyata dalam mengatasi setiap pergumulan atau krisis hidup kita, tetapi juga kita bisa menyatakan kehadiran-Nya dengan bersandar pada kuasa Allah tersebut.

God Bless

Standar penilaian kerajaan sorga


Bagian akhir khotbah di bukit ini menarik karena kita diperhadapkan dengan kesejajaran yang berkesinambungan mulai dari dua jalan (luas dan sempit), pintu (lebar dan sesak), tujuan (kehidupan dan kebinasaan), pohon dan buah (yang baik dan tidak baik), orang (bijaksana dan bodoh), dasar bangunan (batu dan pasir), rumah (yang tidak rubuh dan yang hebat kerusakannya).

Kesejajaran yang sinambung ini merupakan klimaks yang menegaskan pelajaran-pelajaran sebelumnya. Berbagai kesejajaran ini merupakan suatu tantangan dari Yesus kepada para murid-Nya dan juga orang banyak yang mendengarkan pengajaran-Nya untuk serius merespons dengan benar.

Di ayat 12, Yesus sudah mendorong inisiatif orang Kristen untuk melakukan yang terbaik bagi sesama. Yesus sendiri meninggalkan teladan bahwa Dia telah melakukan segala sesuatu sebagai pemenuhan hukum Taurat dan para nabi (5:17). Sehingga ketika Ia menyatakan tentang pintu dan jalan maka Ia mengundang kita untuk percaya dan masuk lewat pintu itu dan mengikuti jalan-Nya itu dengan meneladani-Nya (13-14). Hal ini kontras dengan para nabi palsu (15-20), mereka yang berseru-seru, "Tuhan, Tuhan" (21) bahkan yang mengaku telah melakukan berbagai perbuatan ajaib (22-23). Perbuatan (buah-buah) mereka membuktikan kepalsuan iman mereka. Mereka sesungguhnya tidak mengenal Tuhan.

Yesus menghadapkan para murid, orang banyak, dan juga kita pada pilihan, menjadi orang bijak atau bodoh. Anugerah harus direspons dengan benar untuk menghasilkan kehidupan yang berkelimpahan. Yaitu, melakukan firman Tuhan dan menolak bujuk rayu dunia, hawa nafsu, dan para penyesat.

Khotbah di bukit bukan hanya sekadar pengajaran tentang standar moral orang Kristen dalam menjalankan kehidupan kristianinya di dunia ini. Khotbah di bukit adalah cara hidup kristiani dalam rangka menegakkan kerajaan surga, yaitu hidup yang tunduk mutlak pada kedaulatan Allah. Caranya ialah membangun karakter dan perbuatan kristiani yang meneladani Kristus.

God Bless

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC