ShareThis

26 January 2012

PADUAN SUARA "AMIN"


Ketika mengunjungi kebaktian be-berapa gereja di Korea Selatan, ada satu hal yang membuat saya penasaran. Jemaat yang hadir berulang kali menanggapi pengkhotbah dengan kata "Amin". Menariknya, suara mereka nyaris selalu bersamaan, seperti sebuah paduan suara. Saya tahu di Indonesia tanggapan "Amin" ada, namun umumnya sendirisendiri. Rasa penasaran saya terjawab setelah mengikuti kebaktian kesekian kalinya, dan mendengar tentang partisipasi nyata gereja-gereja Korea Selatan dalam pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Semua gereja dari pelbagai latar-belakang mendidik jemaatnya untuk mengabarkan Injil dan mendukung pekabaran Injil. Tidak heran, ketika kalimat-kalimat khotbah berisi ajakan memberitakan Injil, tanggapan spontan mereka pastilah "Amin".

Partisipasi dalam pemberitaan injil juga merupakan kesan kuat yang tertanam di hati Paulus setiap kali mengingat jemaat di Filipi (ayat 5). Salah satu wujudnya, mereka memberikan bantuan untuk mencukupi kebutuhan Paulus sebagai pemberita injil lintas budaya (lihat pasal 4:15, 16, 18). Tindakan kasih tersebut tentunya didasari kerinduan agar injil diberitakan, bukan hanya dari satu orang, tapi seluruh jemaat. Surat Filipi memuat ucapan terima kasih dari sang rasul kepada mereka.

Ada satu hal yang sama-sama "diaminkan" baik oleh gereja-gereja di Korea Selatan, maupun jemaat Filipi. Hati mereka penuh kerinduan memberitakan Injil ke segala bangsa. Apakah keyakinan dan kerinduan yang sama juga meliputi hati kita dan menggerakkan tindakan kita untuk mengambil bagian secara nyata?

God Bless ^^

WAKTUNYA BELUM TIBA?

Ayat : Hagai 1:1-11

Waktu anak-anak saya masih ABG (Anak Baru Gede), saya sempat jengkel dengan beberapa sikap mereka. Demi mencari identitas dan jati diri, meski usia belum cukup, mereka kerap nekat nonton film 17 tahun ke atas atau naik motor sendiri. Mereka merasa sudah cukup dewasa. Namun, saat diminta melakukan tanggung jawab tertentu, mereka kerap berdalih, "Kami belum dewasa. Belum waktunya untuk itu!" Dewasa bagi mereka identik dengan memprioritaskan hal-hal yang menjadi hasrat dan keinginan diri mereka sendiri.

Bangsa Israel pernah membuat dalih serupa. Setelah kembali dari tanah pembuangan, mereka diberi tanggung jawab mendirikan rumah Tuhan. Namun, mereka tak melakukannya. Mereka merasa belum waktunya membangun kembali kehidupan sebagai umat Tuhan jika kehidupan mereka sendiri belum mapan. Mereka memilih tinggal dulu di rumah masing-masing (ayat 4). Prioritas yang terbalik ini menghasilkan kehidupan yang tak semestinya (ayat 6). Tuhan mau mereka memperhatikan keadaan ini dan kembali kepada prioritas yang benar, agar kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui mereka (ayat 8).

Sebagai umat Tuhan, apakah prioritas hidup kita juga kerap terbalik? Apakah hari-hari kita hanya dipicu dan dipacu untuk mengejar kemapanan dan identitas dambaan sendiri? Dan, seperti pundi-pundi yang berlubang, kita tak juga merasa puas atau penuh? Tuhan mau kita pun memperhatikan keadaan ini. Dia mau kita memiliki prioritas untuk membangun "rumah persekutuan dengan Tuhan", dan menemukan identitas kita di dalam hal-hal yang berkenan dan menyatakan kemuliaan-Nya.

God Bless ^^

PILIH MANA?


Menjadi seorang kristiani yang hidupnya serba cukup, karir sukses, taat firman, jadi berkat bagi banyak orang, memuliakan Tuhan sepanjang hidup; siapa yang tak mau? Namun, bagaimana kalau demi ketaatan pada Tuhan dan kesaksian hidup yang memuliakan-Nya, kita mungkin dimusuhi orang, kehilangan pekerjaan, hidup serba susah, bahkan nyawa terancam? Akankah Anda tetap bertahan dengan iman Anda?

Daniel pernah diperhadapkan pada situasi yang demikian. Kecakapan dan reputasinya mengusik sejumlah pejabat istana raja (ayat 2-5). Sebab itu, mereka mengatur strategi licik untuk menjebak dan mematikan Daniel di mulut singa-singa ganas. Raja Darius yang kurang waspada dan terpesona oleh retorika para pejabat yang menjilat (ayat 8) masuk dalam perangkap dengan mengesahkan undang-undang hukuman mati bagi siapa saja yang dalam waktu sebulan menyembah apa pun selain dirinya. Apa yang akan kita lakukan jika menjadi Daniel? Berhenti berdoa selama sebulan demi menyelamatkan karir dan nyawa terdengar sebagai pilihan yang masuk akal, bukan? Namun, ia adalah orang yang tak dapat ditawar dalam hal ibadah kepada Tuhan. Ia tetap berdoa dan memuji Tuhan sebagaimana biasanya (ayat 11). Takkan pernah ia menggantikan arah hatinya kepada sesuatu selain Tuhan.

Kepada siapa hati kita terarah? Kepada Tuhan seperti yang dicontohkan Daniel? Atau kepada diri sendiri, karir, kenyamanan hidup, reputasi, penghargaan orang? Bisa jadi pilihan untuk tetap konsisten menaati Tuhan tampak merugikan, tetapi di situlah akan nyata siapa yang mendapat tempat terutama di hati kita.

God Bless ^^

Popular Posts

 
Hope and Love Jesus Christ | HLJCC